Smartphone Modular Pasca Kegagalan Google dan LG



Jakarta - Istilah smartphone modular yang sudah kerap muncul beberapa waktu yang lalu, mengarah pada bagian-bagian yang bisa dilepas-pasang pada smartphone yang sangat berguna untuk menambah atau mengurangi fiturnya namun performanya tetap stabil dan terbaik.

Kemudian modular ini pun jadi hal pembeda bagi sebuah smartphone, dan ini adalah hal bagus, karena smartphone masa kini cenderung membosankan karena fiturnya yang itu-itu saja, hanya makin kencang, baterai makin besar dan sejenisnya.

Sayangnya, sudah ada dua nama besar yang sempat mencoba menggarap konsep ini namun bisa dibilang tak sukses, yaitu Google dan LG. Google sebelumnya sudah pernah mencoba menggarap ponsel rakitan yang mereka sebut sebagai Project Ara, yang pengembangannya berhenti di tengah jalan.

Ada juga LG mencoba peruntungan ponsel modular di G5 dan G5 SE sudah menyatakan tak akan menerapkan konsep serupa di ponsel penerusnya. Menurut mereka, konsumennya tak tertarik pada desain ponsel mereka yang bisa dibongkar pasang. Namun ada juga yang menyebut karena ketersediaan dan pilihan aksesori yang terbatas membuatnya jadi tak menarik.

Padahal konsep modular ini bisa membawa hal baru ke dalam smartphone, dan bisa menjaga bodi smartphone tetap ramping karena fitur yang tak diperlukan bisa dilepas. Jika suka fotografi, misalnya, pengguna bisa menggunakan modul kamera tambahan, yang mungkin mempunyai lensa lebih baik, dan zoom yang lebih panjang.

Bisa juga menambahkan modul speaker tambahan, agar suara yang dihasilkan bisa lebih bagus dan lebih keras, karena speaker internal pada smartphone lazimnya cenderung kecil dan jarang ada yang bisa menghasilkan suara bagus.

Penyuka film pun bisa mendapat keuntungan dari konsep modular ini. Ya, smartphone memang bisa dipakai untuk menonton film, namun keterbatasan ada pada layarnya -- meski smartphone saat ini punya layar besar -- yang kurang besar.

Aksesori yang bisa meningkatkan pengalaman pengguna yang suka menonton film tentulah proyektor. Dengan aksesori ini, film yang diputar di smartphone bisa 'ditembakkan' ke tembok atau lainnya, dan bisa menghasilkan gambar sebesar televisi.

Dan yang paling sederhana namun penting adalah baterai tambahan. Memang, baterai tambahan seperti powerbank kini sudah banyak yang berkualitas bagus, namun powerbank harus dicolokkan ke port microUSB -- atau USB-C -- smartphone sehingga pasti ada kabel yang menjuntai pada bagian bawah smartphone. 

Berbeda dengan aksesori yang memang didesain untuk smartphone tertentu, sehingga tetap nyaman dipakai karena baterainya bisa dipasang pada cover belakang smartphone.

Tentunya aksesori-aksesori ini saat tak dibutuhkan bisa dilepas, sehingga bodi smartphone tetap berukuran ramping dan nyaman digenggam. Bukan seperti -- misalnya -- smartphone yang mempunyai lensa zoom panjang, namun mengorbankan ukuran bodinya menjadi besar dan tebal.

Sebenarnya masih ada pemain lain yang masih mencoba peruntungan dengan konsep smartphone modular dengan beragam aksesoris yang disediakan, mulai dari kamera, speaker, proyektor, hingga baterai tambahan. Akankah mereka sukses kali ini? Kita nantikan saja. (asj/rou)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Smartphone Modular Pasca Kegagalan Google dan LG"

Post a Comment